bLog na Sound'@ cLan
Sabtu, 19 April 2008
mUtiaRa uNgu
pagi ini mutiaraku brcahaya dg lembutna.. kmarin aku trsiram hujan asam yg mbwtku brubah sketika mnjadi ungu. awan yang snantiasa mngiringiku sdh trluka, ia hendak mninggalknku namun ia tak ingin ku trluka. ia sadar tangisnya bwt aku mnjadi ungu sendu. namun aku brjuang utk mnjadi putih kmbali dan suatu saat aku dan awanku brcahaya kembali. aku yakin itu.
buTterfLy
tata terlahir sbg seekor ulat yg menggelikan.. dlm hdpny ia harus blajar bnyk hal, krna ia msh kecil untuk brjalan dan mncari makan ia brjuang skuat tnagany.
stelah ia tumbuh mnjadi abg aliaz anak baru gede sesuatu yg lbh bsar mnantinya. ia harus mnempuh prjuangan yg brat untuk mndewasakn drinya. dg brubah mnjadi kepompong.
kita doakan tata mampu mnjalankn prjuangannya dan mnjadi butterfly dwasa yg cantik dan dewasa. amin
stelah ia tumbuh mnjadi abg aliaz anak baru gede sesuatu yg lbh bsar mnantinya. ia harus mnempuh prjuangan yg brat untuk mndewasakn drinya. dg brubah mnjadi kepompong.
kita doakan tata mampu mnjalankn prjuangannya dan mnjadi butterfly dwasa yg cantik dan dewasa. amin
Jumat, 11 April 2008
Ketika Amanah Terbengkalai Ego
Tepat pukul 5.00 dini hari selepas azan subuh aku berikrar dengan disaksikan oleh Sang Mengetahui.. Berikrar untuk setia dan mematuhi konstitusi yang ada. Berikrar untuk mewujudkan tujuan organisasi menuju insan cita. dan yang terpenting berikrar untuk menjalankan kewajiban seorang muslim dan muslimah sejati.
Seiring berjalannya waktu yang tidak selalu mulus kita melakukan beberapa kealpaan baik itu besar ataupun kecil. Hal ini sangat lumrah dimana memang fitrah manusia yang melakukan salah. namun itu bukan akhir segalanya. ketika kesalahan yang kita perbuat hanya berhenti sebagai sebuah kesalahan, itu akan menjadikan kita orang yang kerdil. terlepas kita menyadarinya ataupun tidak. Untuk terus berjalan kedepan, jejak langkah harus kita tinggalkan. namun ketika jejak yang tercipta itu salah arah, kita harus memperbaikinya dengan taubatan nasuha dan berikhtiar untuk hari depan yang lebih baik.
sebagai manusia biasa kita memiliki amanah untuk menjadi khalifah fil ardh dan menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dan ketika menjadi seorang pemimpin amanah yang diemban pun semakin berat. Ada banyak kategori pemimpin, yaitu pemimpin diri sendiri, pemimpin rumah tangga, pemimpin organisasi, pemimpin negara dan lain sebagainya. Sebagai seorang pemimpin tentulah memiliki sifat-sitaf kepemimpinan yang baik yang diharapkan mampu membawa wadah yang menaunginya pada sebuah kesuksesan. namu kembali lagi pada fitrahnya manusia memiliki egoisme masing-masing yang kadarnya tentu berbeda-beda pada setiap orang.
Sebagai seorang muslim kita tentu menyadari bahwa sebuah amanah apapun itu bentuknya harus dijalani dan dipertanggung-jawabkan suatu hari nanti. Konflik hadir untuk mendewasakan diri dan menyempurnakan proses yang kita jalani. Suatu musibah jika kita terbiasa mengedepankan egoisme dan meninggalkan amanah. Terlebih lagi jika ego tersebut mengkambing hitamkan konflik untuk tidak menjalankan amanah yang sudah dipercayakan.
Seiring berjalannya waktu yang tidak selalu mulus kita melakukan beberapa kealpaan baik itu besar ataupun kecil. Hal ini sangat lumrah dimana memang fitrah manusia yang melakukan salah. namun itu bukan akhir segalanya. ketika kesalahan yang kita perbuat hanya berhenti sebagai sebuah kesalahan, itu akan menjadikan kita orang yang kerdil. terlepas kita menyadarinya ataupun tidak. Untuk terus berjalan kedepan, jejak langkah harus kita tinggalkan. namun ketika jejak yang tercipta itu salah arah, kita harus memperbaikinya dengan taubatan nasuha dan berikhtiar untuk hari depan yang lebih baik.
sebagai manusia biasa kita memiliki amanah untuk menjadi khalifah fil ardh dan menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dan ketika menjadi seorang pemimpin amanah yang diemban pun semakin berat. Ada banyak kategori pemimpin, yaitu pemimpin diri sendiri, pemimpin rumah tangga, pemimpin organisasi, pemimpin negara dan lain sebagainya. Sebagai seorang pemimpin tentulah memiliki sifat-sitaf kepemimpinan yang baik yang diharapkan mampu membawa wadah yang menaunginya pada sebuah kesuksesan. namu kembali lagi pada fitrahnya manusia memiliki egoisme masing-masing yang kadarnya tentu berbeda-beda pada setiap orang.
Sebagai seorang muslim kita tentu menyadari bahwa sebuah amanah apapun itu bentuknya harus dijalani dan dipertanggung-jawabkan suatu hari nanti. Konflik hadir untuk mendewasakan diri dan menyempurnakan proses yang kita jalani. Suatu musibah jika kita terbiasa mengedepankan egoisme dan meninggalkan amanah. Terlebih lagi jika ego tersebut mengkambing hitamkan konflik untuk tidak menjalankan amanah yang sudah dipercayakan.
Sabtu, 05 April 2008
Kerang
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)



